JAYAPURA, KOMPAS.com

Selain melaksanakan tugas pokok menjaga garis perbatasan negara, pasukan Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Indonesia-PNG Markas Besar TNI/Batalion Infantri 407-Padmakusuma ikut mengajar di SMP Negeri Erambu, Distrik Sota, Kabupaten Merauke, yang tidak jauh dari perbatasan Indonesia-PNG.

Komandan Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Indonesia-PNG Markas Besar TNI, Letnan Kolonel Infantri Abi Kusnianto, ketika dihubungi dari Kota Jayapura, Papua, Minggu (16/10/2016), mengatakan, personelnya di Pos Kotis Kaliwanggo ikut membantu SMP Negeri Erambu dengan menjadi guru bantu.

“SMP Negeri Erambu merupakan sekolah di Kampung Erambu, Distrik Sota, dimana para siswanya berasal dari dua kampung, yaitu Kampung Erambu dan Toray dan masih kekurangan tenaga pengajar atau guru,”katanya.

Personel pasukan juga membantu warga setempat dengan menjadi guru bantu bagi sekolah-sekolah yang kekurangan tenaga pengajar di wilayah yang menjadi tanggung jawab masing-masing pos.

“Kami akan berupaya mengerahkan personel yang memiliki kemampuan di bidang pendidikan untuk menjadi tenaga pengajar. Menjadi guru bantu ini sebenarnya sudah kami siapkan sejak masih di satuan,” katanya.

“Personel kami dibekali penataran dari Dinas Pendidikan maupun dari yayasan pendidikan pada saat penyiapan, namun karena ada beberapa tugas secara bersamaan, pelaksanaan di lapangan kami lakukan secara bergantian,” katanya.

Di SMP Negeri Erambu, kata dia, materi Ilmu Penetahuan Sosial dan baris-berbaris menjadi tanggung jawab dari anggota satuan tugas yang dia pimpin, sebagai guru bantu.

“Pelajaran yang diberikan selama satu minggu sebanyak tiga kali pertemuan. Para siswa-siswi ini canggung dan terkesan malu-malu waktu pertama kali personel datang memberikan pelajaran, namun seiring berjalan waktu dan kami kasih pengertian, mereka mengikuti pelajaran dengan antusias dan penuh semangat,” kata Kusnianto.

Serka Sasmito, salah satu personel guru bantu membenarkan, ada beberapa perilaku siswa-siswi yang masih terkesan acuh dan tidak memperhatikan pelajaran yang diberikan karena asyik cerita.

“Tapi itulah yang menjadi tantangan bisa mengubah menjadi lebih baik. Sebagai tenaga guru bantu, kami akan berupaya menjadikan para siswa-siswi ini menjadi yang terbaik. Memang banyak kekurangan dan keterbatasan namun dengan semangat serta kemauan, kami pasti bisa,” katanya.